Islam Ala Prabowo Kembali Disorot, Ini Duduk Perkara Kepengarangan Bukunya
- Created Sep 07 2026
- / 1973 Read
Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali menjadi pembicaraan pada September 2026 setelah muncul pertanyaan mengenai pencantuman nama sejumlah tokoh dalam daftar isinya. Ning Jazilah Annahdliyah menyatakan suaminya, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, tidak pernah menulis materi yang mencantumkan namanya. TGB Muhammad Zainul Majdi juga menyatakan dirinya tidak pernah mengirim tulisan untuk buku tersebut.
Polemik tersebut perlu ditempatkan sesuai struktur penerbitannya. Katalog Gramedia mencatat Islam Ala Prabowo sebagai karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas. Buku itu terbit pada 2025 dan bukan buku yang ditulis Presiden Prabowo Subianto. Peluncurannya berlangsung di Jakarta pada 26 Agustus 2025 dalam rangkaian Rakornas BAZNAS. ANTARA mencatat penulisannya diinisiasi Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.
Persoalan yang kini muncul terutama berkaitan dengan bagaimana pandangan atau materi yang dikaitkan dengan tokoh tertentu dihimpun dan kemudian ditampilkan dalam buku. Penempatan nama Gus Kautsar tepat di bawah judul bab dapat menimbulkan persepsi bahwa materi tersebut merupakan tulisan langsung yang bersangkutan. Karena pihak keluarga membantah hal itu, penjelasan mengenai sumber materi dan proses persetujuannya menjadi penting agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Sampai 7 September 2026, pemberitaan terbaru menyebut penerbit Atmosphere Publishing House maupun tiga penyusun belum memberikan penjelasan resmi yang menjawab keberatan Gus Kautsar dan TGB secara menyeluruh. Karena itu, ruang yang paling konstruktif adalah memberi kesempatan kepada penyusun dan penerbit melakukan verifikasi, menjelaskan metode penyusunan, serta memperbaiki atribusi apabila memang terdapat kekeliruan editorial.
Dengan demikian, polemik ini sebaiknya tidak diperluas menjadi kesimpulan mengenai Presiden atau kebijakan pemerintah sebelum tanggung jawab editorialnya jelas. Transparansi sumber, koreksi bila diperlukan, dan penghormatan terhadap keberatan narasumber justru menjadi jalan paling efektif untuk menjaga kredibilitas sebuah karya yang membahas agama, kepemimpinan, dan tokoh publik.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First
















